dinamika bahasa gaul

bagaimana satu istilah unik bisa menjadi bahasa baku nasional

dinamika bahasa gaul
I

Pernahkah kita menyadari, betapa cepatnya mulut kita beradaptasi dengan kata-kata baru?

Beberapa tahun lalu, kata baper, santuy, atau mager mungkin terdengar seperti bahasa alien bagi orang tua kita. Kata-kata itu cuma dipakai oleh anak muda yang nongkrong di warung kopi atau berbalas komentar di media sosial. Terkesan tidak resmi. Terkesan, yah, sekadar bahasa jalanan.

Tapi coba lihat sekarang. Pejabat publik menggunakannya dalam pidato. Jurnalis menuliskannya di tajuk rencana. Dan yang paling epik, kata-kata itu kini duduk manis di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Resmi. Baku. Diakui oleh negara.

Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana sebuah kata yang lahir dari celetukan iseng anak nongkrong, tiba-tiba bisa berevolusi menjadi bahasa baku nasional?

Mari kita bedah anatomi bahasa gaul ini bersama-sama. Perjalanan sebuah kata dari jalanan menuju kamus ternyata menyimpan kisah tentang pemberontakan, neurobiologi, dan cara otak kita memproses realitas.

II

Untuk memahami evolusi ini, kita harus mundur selangkah dan melihat dari kacamata psikologi evolusioner.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang sangat tribal. Kita punya kebutuhan biologis yang kuat untuk merasa diterima dalam sebuah kelompok. Dalam psikologi, ini disebut in-group favoritism. Ketika kita berada di antara teman-teman satu circle, otak kita melepaskan oksitosin, yakni hormon pengikat sosial yang membuat kita merasa aman.

Nah, salah satu cara paling efektif untuk membangun batasan antara "kelompok kita" dan "orang luar" adalah melalui sandi rahasia. Itulah fungsi utama bahasa gaul.

Teman-teman mungkin ingat sejarah bahasa Prokem di era 80-an yang berawal dari kode rahasia preman jalanan. Atau bahasa Binan yang awalnya dipakai oleh komunitas marginal agar percakapan mereka tidak dipahami masyarakat umum.

Saat kita menciptakan dan menggunakan kata baru yang hanya dipahami oleh kelompok kita, otak memproduksi dopamin. Ada rasa puas. Ada rasa eksklusif. Bahasa gaul pada mulanya adalah sebuah bentuk pemberontakan kecil terhadap aturan tata bahasa yang kaku. Ia adalah cara generasi muda berkata, "Ini duniaku, bukan duniamu."

III

Tapi, di sinilah misterinya mulai mengemuka.

Jika bahasa gaul awalnya diciptakan untuk menjadi rahasia dan eksklusif, lalu kenapa ia bisa bocor ke ranah publik? Lebih aneh lagi, kenapa ada kata gaul yang umurnya sangat pendek, tapi ada yang bertahan selamanya?

Ingat kata cemungut atau ciyus miapah? Kata-kata itu sempat meledak, lalu mati perlahan karena dianggap cringe. Mereka punah dari peradaban linguistik kita. Namun, kata seperti galau (yang makna aslinya dihidupkan kembali dengan konteks baru), julid, atau pansos justru terus bertahan hidup, membesar, dan akhirnya dibakukan.

Apa yang membuat sebuah kata gaul layak naik kasta menjadi bahasa baku? Siapa sebenarnya yang mengendalikan bahasa kita? Apakah ada dewan rahasia berjas rapi yang duduk di meja bundar dan menentukan kata apa yang boleh masuk kamus?

IV

Bersiaplah, karena fakta ilmiahnya mungkin akan mengubah cara kita memandang bahasa selamanya.

Tidak ada dewan rahasia yang mendikte bahasa. Sebaliknya, kitalah yang menjadi diktatornya. Para penyusun kamus (disebut leksikograf) bekerja dengan prinsip deskriptif, bukan preskriptif. Artinya, tugas mereka bukan mengatur bagaimana kita harus bicara, melainkan mencatat bagaimana kita secara nyata sedang bicara.

Sebuah bahasa gaul bisa menjadi baku karena ia berhasil meretas psikologi massa melalui fenomena yang disebut Mere Exposure Effect.

Secara psikologis, otak kita cenderung menyukai hal-hal yang familiar baginya. Saat sebuah kata gaul pertama kali muncul, otak generasi yang lebih tua akan menganggapnya sebagai anomali atau ancaman terhadap tatanan. Tapi, ketika kata itu diulang-ulang—dipakai oleh influencer, masuk ke naskah film, ditulis di meme, dan diucapkan jutaan kali setiap hari—otak mulai menurunkan pertahanannya.

Kata tersebut berevolusi dari sekadar "kode rahasia" menjadi sebuah kebutuhan leksikal.

Maksudnya begini: terkadang, bahasa baku yang ada tidak punya kata yang cukup pas untuk mendeskripsikan suatu emosi yang spesifik. Misalnya, butuh kalimat panjang untuk menjelaskan "perasaan lelah secara fisik dan mental sehingga tidak ada motivasi untuk bergerak". Tapi anak muda meringkasnya menjadi satu kata ajaib: mager.

Karena sangat efisien, kata ini menyebar seperti virus. Dalam sains komunikasi, ini adalah contoh sempurna dari Memetics, teori dari Richard Dawkins di mana ide (atau kata) berbiak dan bertahan hidup seleksi alam berdasarkan seberapa berguna ide tersebut bagi manusia.

Ketika sebuah kata gaul terbukti sangat berguna, sering dipakai secara masif (frekuensi tinggi), tersebar di berbagai wilayah (jangkauan luas), dan bertahan dalam kurun waktu tertentu, para leksikograf KBBI tidak punya pilihan lain. Mereka harus membedah kata itu, mencari akar etimologinya, dan meresmikannya di dalam kamus.

Momen masuknya kata gaul ke kamus adalah momen di mana pemberontakan itu resmi dimenangkan.

V

Jadi, teman-teman, apa yang bisa kita pelajari dari perjalanan bahasa gaul ini?

Kisah ini menyadarkan saya bahwa bahasa bukanlah monumen batu yang mati dan tak bisa diubah. Bahasa adalah organisme yang hidup, bernapas, dan terus bertumbuh bersama kita.

Kita sering kali terlalu cepat menghakimi bahasa anak-anak muda zaman sekarang. Kita menganggapnya merusak bahasa persatuan. Padahal, jika kita melihat dari kacamata sejarah dan sains, mereka sedang melakukan hal yang sangat natural. Mereka sedang bereksperimen dengan realitas. Mereka sedang mengisi kekosongan emosi yang belum sempat dinamai oleh generasi sebelumnya.

Mulai sekarang, ketika kita mendengar istilah gaul baru yang terdengar aneh di telinga, mari kita tahan sejenak keinginan untuk mengkritiknya. Berpikirlah kritis dan amati pola penyebarannya. Siapa tahu, kata aneh yang hari ini kita tertawakan, kelak akan menjadi kata yang kita gunakan saat menulis laporan resmi di masa depan.

Karena pada akhirnya, kamus tidak pernah menciptakan bahasa. Kamus hanya merekam jejak imajinasi kita semua.